Rabu, 30 Oktober 2019

Marionette


Cerita pendek yang pernah saya tulis dan telah dipublikasikan oleh Kekata Publisher dalam event "Lomba Menulis Cerita Pendek Rahasia Hati" bulan Desember tahun 2015.

Marionette
              
Penulis           : Windy Astarini
Tahun Terbit  : 2016
Judul Buku    : Rahasia Hati Antologi Cerpen
Kota              : Surakarta
Penerbit         : Kekata Publisher  


Kau adalah mimpi buruk bagiku


              Hujan.
              Aku mengetuk-ngetukkan jari telunjuk kananku dengan kesal di meja sambil menopang dagu dengan tangan kiriku. Ya, saat ini aku sedang duduk di sudut sebuah restoran yang cukup terkenal di kota Paris. Sesekali aku menatap pemandangan di luar sana melalui kaca jendela besar yang berada tepat di samping kiriku. Aku mendesah. Tampaknya ini akan berlangsung lama.

              Aku mengedarkan pandangan. Hampir tidak ada tempat kosong di restoran ini dan kebanyakan pengunjungnya adalah pasangan kekasih. Aku sama sekali tidak terkejut karena hari ini adalah hari valentine atau orang lain biasa menyebutnya sebagai hari kasih sayang – dimana semua pasangan kekasih merayakannya dengan cara memberikan kado pada kekasihnya, kencan di tempat romantis, dan hal-hal romantis lainnya. Ugh… aku mengerling. Hari kasih sayang?

              Tentu saja momen seperti ini takkan dilewatkan begitu saja bagi para pebisnis terutama si empunya restoran ini. Beliau mendesain ulang restoran ini sedemikian rupa hingga mampu menarik pengunjung terutama para pasangan kekasih yang sedang merayakan hari valentine – dengan menghadirkan suasana yang sangat romantis. Bunga mawar, balon pink berbentuk hati, dan juga lilin. Well, tampaknya semua pengunjung sangat menikmati semua ini – mereka terlihat sangat bahagia dengan senyum lebar yang tersungging di bibir mereka. Kecuali satu, yaitu aku.

              Aku menarik nafas dalam-dalam. Aku mengalihkan tatapanku, kembali menatap pemandangan di luar sana. Hujan belum juga reda. Hanya segelintir orang – atau lebih tepatnya beberapa pasangan kekasih – yang berlalu-lalang. Lagi-lagi aku melihat aura kebahagian yang terpancar di wajah mereka. Dan hujan tampaknya tak menyurutkan rasa kebahagiaan mereka. Argh… Hanya ada satu alasan kuat yang membuat mereka semuanya terlihat bahagia di hari spesial ini, yaitu cinta.

              Cinta. 
              Satu kata yang cukup membuat jantung seseorang berdebar-debar di luar batas normal. Satu kata yang mampu menjungkir balikkan hati seseorang. Satu kata yang membuat seseorang rela melakukan apa pun. Satu kata yang memiliki sejuta arti – atau bahkan milyaran.
Mencintai dan dicintai adalah dua hal yang berbeda.

              Seperti dalam kasus ‘cinta bertepuk sebelah tangan’. Kebanyakan orang mengatakan bahwa pihak yang mencintai selalu menjadi pihak yang paling menderita. Lalu bagaimana dengan pihak yang dicintai? Menurut sudut pandang mereka pihak yang dicintai merupakan pihak yang kejam, tidak tahu diri, dan segala macam pandangan jelek lainnya. Mereka memang hanya melihat melalui sudut pandang mereka saja. Mereka tidak pernah mencoba untuk melihat melalui sudut pandang pihak yang dicintai, sehingga mereka tidak benar-benar tahu bagaimana perasaan yang sesungguhnya dirasakan oleh pihak yang dicintai. Kenapa aku mengatakan seperti ini? Karena saat ini aku berada di posisi sebagai pihak yang dicintai.

              Ethan Cole. 
              Kami bertemu secara tak sengaja di sebuah perayaan kelulusan SMA. Sebelumnya kami tak pernah bertemu, meskipun kami berada di satu sekolah. Takdir? Mungkin saja. Dan pertemuan pun berlanjut, hingga menimbulkan perasaan cinta di hati Ethan. Bagaimana denganku? Jujur saja aku sama sekali tidak memiliki perasaan apa pun terhadapnya. Berulang kali dia mencoba menyatakan cintanya dan berulang kali pula aku menolaknya.

              Hingga semuanya menjadi mimpi buruk bagiku.
              Entah apa yang dikatakan Ethan kepada Cassie – sahabatku – sehingga membuat Cassie memintaku atau lebih tepatnya memaksaku untuk menerima pernyataan cinta Ethan. Cassie berdalih bahwa dia merasa kasihan pada Ethan melihat bagaimana perjuangan Ethan untuk mendapatkanku selama ini. Ingin rasanya aku berteriak ‘bagaimana perasaanku? apakah perasaanku sama sekali tidak penting?’ saat itu juga kepada Cassie. Tetapi aku tidak melakukan itu, aku tidak ingin merusak persahabatanku dengan Cassie yang telah terjalin sejak kami berusia 7 tahun. Bukan hanya Cassie yang mengatakan itu. Bella, John, Ben, Nick, Donovan, well hampir semua temanku mengatakan hal yang sama seperti apa yang dikatakan Cassie. Hampir setiap detik mereka menguliahiku tentang itu. Ini benar-benar membuatku frustasi.

              Hingga enam tahun kemudian, dengan berat hati aku memutuskan untuk menerima pernyataan cinta Ethan. Dan ternyata… penderitaanku tak berhenti sampai di situ saja.
Setiap kali aku bersikap acuh-tak-acuh, menolak untuk diajak berkencan, dan segudang tingkah lakuku yang membuat Ethan tidak senang – bahkan aku pernah untuk meminta putus. Dia dengan sigap akan menghubungi Cassie. Dan lagi-lagi Cassie akan menguliahiku. Tentu saja aku tidak diam saja, aku berusaha untuk membela diriku, tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Aku kalah. Sejujurnya aku sama sekali tidak mengerti. Sudah jelas Cassie adalah sahabatku, tetapi sikapnya seolah-olah bahwa dia sahabat Ethan. Melihat bagaimana dia memarahikui habis-habisan ketika tingkah lakuku telah menyakiti perasaan Ethan.

              Ethan Cole, kau adalah mimpi buruk bagiku.
              “Maaf aku terlambat,” suara itu membuyarkan lamunanku. Aku menoleh dan menatap pria yang telah membuatku terjebak di malam dan tempat yang membosankan ini.Argh…dia adalah Ethan Cole. Tentu saja ini semua atas paksaan Cassie. Dan Cassielah yang membuatku terpaksa memakai gaun pemberian Ethan – gaun satin berwarna hitam tanpa lengan.

              Aku menegakkan tubuhku dan memaksa diriku untuk tersenyum. “Aku baru saja tiba,” dustaku.

              Ethan tersenyum saat tatapannya tertuju pada gaun yang kukenakan. “Kau terlihat sangat cantik,” pujinya sambil duduk di seberang meja. Kemudian dia merogoh kantong tuksedonya. Sebuah kotak kecil berwarna hitam sudah berada dalam genggamannya dan dia memberikannya kepadaku.
  
            “Ini untukmu. Kau pasti akan menyukainya.”

            “Thanks,” ucapku sambil menerima kotak kecil berwarna hitam pemberiannya. Aku tidak peduli apa yang ada di kotak itu. Aku juga tidak berniat untuk membukanya, jadi aku hanya meletakkan di meja begitu saja.

              Ethan tersenyum lebar. “Kau pasti lapar,” tebaknya. Kemudian dia sibuk melihat menu-menu di buku menu.

              Hubungan kami memang sudah berjalan dua tahun lebih, tetapi aku masih saja tidak memiliki perasaan apa pun terhadapnya. Sejujurnya aku ingin menertawakan ketololan, keluguan, dan kebodohanku ini. Aku selalu melakukan apa saja yang dikatakan oleh Cassie – tentu saja itu semua atas perintah Ethan kepada Cassie. Aku merasa seperti marionette – boneka yang digerakkan dengan tali dari atas. Oh, betapa menyedihkannya hidupku.

              Tak hanya sekali dua kali aku mencoba untuk mengutarakan perasaanku kepada Ethan – mengenai ketiadaan cinta yang aku rasakan terhadapnya – tetapi Ethan sama sekali tidak peduli. Seolah-olah perasaanku tidak ada harganya. Dia berdalih bahwa dia akan berusaha membahagiakanku. Membahagiakan? Justru yang terjadi sebaliknya.

              Aku menarik nafas dalam-dalam. “Ethan,” panggilku.

              Ethan mendongak. “Ya?” Ethan mengerutkan keningnya saat melihat ekspresi wajahku. Tak perlu diragukan lagi pasti Ethan sudah mencium ada sesuatu yang tidak beres dariku. Tatapannya terlihat siaga. Sudah dipastikan Cassie akan menjadi sasaran empuk atas pertanyaan-pertanyaan yang berputar dalam benaknya saat ini.

              Aku mengeraskan hatiku. Sudah cukup. Ini bukanlah cinta. Aku sudah tidak peduli apa yang dikatakan orang lain, terutama sahabatku, Cassie. Ini bukan soal pendapat mereka, tetapi perasaanku. Aku beranjak dari kursi. “Aku tidak ingin melanjutkan semua ini,” ucapku tegas.

              Aku teringat dengan tiket pesawatku – tiket pesawat yang akan membawaku menuju kota London beberapa jam lagi – yang sudah tersimpan manis di dalam tasku. Aku sudah merencanakan semuanya dengan sangat matang selama satu minggu ini – tentu saja tanpa sepengetahuan Cassie. Aku sudah mengepak barang-barang pemberian Ethan dan meminta ibuku untuk mengirimnya melalui pos ke rumah Ethan setelah aku meninggalkan kota ini. Aku juga telah mengganti nomor ponselku. Hanya keluargaku saja yang mengetahui nomor ponsel baruku dan aku telah meminta mereka untuk tidak memberitahukannya kepada siapa pun – terutama Cassie. Aku akan pergi meninggalkan semuanya termasuk karirku. Well, aku tidak peduli semua itu. Aku akan memulainya kembali dari awal. Itu pasti tidak akan sulit.

              Ethan menghentikan langkahku dengan menggenggam lengan kiriku. “Apa yang salah denganku?” tanyanya memelas.

              Aku memutar bola mataku. Pertanyaan yang sudah tidak asing di telingaku. Pertanyaan yang selalu dia lontarkan ketika aku mengatakan ingin mengakhiri semua ini. Mungkin dulu aku akan mengalah dan akan menuruti semua permintaan Cassie, tetapi sekarang… Aku menoleh dan menatapnya tajam. Keputusanku sudah bulat. “Sudah cukup, Ethan. Jika kau ingin membahagiakanku, aku mohon lepaskan aku,” pintaku sambil berusaha melepaskan tanganku dari genggamannya.

              “Tapi, Megan…” Ekspresi wajahnya terlihat sedih.

              “Kau adalah mimpi buruk bagiku, Ethan,” ucapku dingin. Aku memasang ekspresi datar. Aku menghembuskan nafas. Baru kali ini aku mengatakan sesuatu yang kasar kepadanya. Oh ya Tuhan maafkan aku.

              Ethan melepaskan genggamannya. Tatapannya nanar. Tapi aku sudah tidak peduli. Aku memejamkan mataku sejenak. Sambil menarik nafas panjang aku beranjak pergi meninggalkan Ethan yang berdiri mematung.

              Semoga kau bahagia. Hanya itu doaku.

              Aku akan pergi – meninggalkan semuanya – dan memulai kembali dari awal.

              Selamat tinggal.

The End